Tema puisi tentang ibu dalam karya puisi tentunya sudah seringkali kita temukan, dengan berbagai gaya, berbagai pilihan kata dan berbagai istilah dimuarakan untuk menggambarkan sosok ibu yang lembut, penuh kasih sayang, penuh perhatian dansebagainya. Sehingga kadang sulit mencari istilah lain untuk mengekpresikan sosok ibu sebagaimana keinginan kita, karena hampir semua orang telah telah mengekspresikannya. Dan kita tentunya tidak ingin terjebak dalam pengekspresian tentang sosok ibu ini pada gaya serta diksi yang sama.
Hal inilah kiranya yang dilakukan Meili L.U SMKN 1 Indramayudari Kelas: XII APK 3, pada puisinya berjudul Terima Kasih Ibu, Meili seperti benar-benar merasa puas. Sebab seluruh isi perasaan hatinya seolah tertuang untuk mengekspresikan tentang sosok ibu yang dikaguminya dalam gaya aku liris yang terasa mewakili aku-aku yang lain......//Kau seorang yang setia menemanaiku/dan tak akan pernah/lelah untuk itu.../kau selalu terbuka untuk mendengar/semua harapan, masalah dan/keluh kesahku//.....
Meski Meili mengungkapkannya tanpa menggunakan bahasa symbolik, tapi pilihan diksi untuk mengutarakan rasa kedekatan, kekaguman dan harapannya sangat terasa menyentuh. Karena Meili di sini tidak sekedar menuangkan, tapi juga lebur dalam ruh ibunya, sehingga sekecil apa pun yang dirasakan ibu dia bisa menangkap dan mengekspresikannya.
Apa yang dilakukan Meili dalam mengekspresikan kekagumannya terhadap sosok ibu, memang terasa berbeda dari teman-temannya yang juga pernah menulis puisi tentang ibu. Tapi Meili memilih cara yang sederhana untuk mengungkapkan kekagumannya, sehingga dari kesederhanaan itu muncul kesan lain yang terasa kental tentang sosok ibu dalam dirinya.
Lalu pagi itu untuk entah yang kesekian kalinya aku kembali mendatangi SMPN 1 Juntinyuat, dan pagi berikutnya ke SMPN 1 Lelea – Indramayu. Kedua Kepala Sekolah (Swardi, S.Pd dan Abdul Manaf, S.Pd) ini aku kira cukup baik menerima kehadiranku dengan penampilan apa adanya. Sebab dari bahasa sambutannya kujabarkan mereka sangat membutuhkan adanya apresian dari luar terhadap apa yang mereka ajarkan kepada murid-muridnya selama ini. Sungguh suatu respon menarik seperti sejumlah sekolah lain yang pernah kudatangi.
Dan dari kedua sekolah tadi aku berhasil mengumpulkan 21 puisi dari SMPN 1 Juntinyuat dan 23 dari SMPN 1 Lelea. Dari ke 43 puisi itu aku hanya mendapatkan beberapa puisi saja yang menurutku cukup menarik untuk dibicarakan, yang ditulis para siswa dalam waktu pendek yang melahirkan pesona kata-kata. Seperti Lusi Eka Juniana dengan puisi Kekasih Yang Setia, dan Ardiyanto yang Kentut. Serta Nurnaeni dari SMAN 1 Sukagumiwang, Haryati dan Wihda Ilmi Afdilla dari SMAN 2 Indramayu.
Meski dari ke lima puisi di atas memiliki bahasa ungkap yang nyaris sama namun memiliki kedalaman makna yang berbeda, seperti puisi “kentut” karya Ardiyanto dari SMPN 1 Juntinyuat misalnya. Puisi yang ditulis Ardiyanto ini setidaknya kembali mengingatkan kita pada tahun 70-an saat-saat ngpopnya Puisi Mbeling. Yang ditandai sebagai fenomena menarik dan sempat memberi warna baru bagi sejarah sastra modern di tanah air waktu itu. Meski kemudian keberadaannya tidak bertahan lama, namun Puisi Mbeling waktu itu menjadi sebuah seni kitsch yang ngepop dan ngetrend. Bagaimana tidak? Baca saja puisi Ardiyanto ini:
Kentut
Oh kentut
bunyimu brat brut
kalau ditahan bisa sakit perut
Oh kentut
wujudmu seperti kabut
kalau dikeluarkan bikin orang ribut
Ardiyanto seenak dan sekenanya saja menulis persoalan kentut tadi dengan bahasa konvensional yang realis dan nakal serta memiliki keunikan makna sosial yang kuat di dalamnya. Yang secara psikologis dapat disimpulkan bagaimana kepekaan dia dalam menangkap fenomena yang ada pada diri serta lingkungannya.
Oleh Sapardi Djoko Damono pada esainya tentang “Puisi Mbeling: Suatu usaha pembebasan” ini, dikatakan bahwa istilah mbeling kurang lebih berarti nakal, kurang ajar, sukar diatur, dan suka berontak, (Bahasa dan Sastra, tahun IV No.3/1978, Pusat Pengembangan dan Pengembangan Bahasa Depdikbud).
Sementara Lusi Eka Juniana dan Wihda Ilmi Afdilla dalam puisinya Kekasih Yang Setia dan Aku Ingin, nyaris memiliki esensi yang sama meski dalam penyampaiannya ada perbedaan yang jauh. Seperti Lusi misalnya, secara umum bahasa dalam puisinya sangat mudah untuk dipahami, namun secara esensial pembaca bisa dibawa pada dua pertanyaan mendasar. Soalnya kata kekasih disitu sebagai kata ganti pacar atau Tuhan. Sebab kalau dikatakan kekasih yang dimaksud Lusi ini pacar, disitu ada kalimat abadi yang dihidupkan: /kuingin kau selalu menemaniku/dan temani aku hingga akhir hayat nanti//.
Tapi disi lain Lusi juga menuliskan //Kasihku jangan kau lari dari pelukanku/tak akan kurelakan kau berpaling dariku//.
Hal yang sama juga terjadi pada puisi Aku Ingin, karya Wihda Ilmi Afdilla. Bedanya bahasa konvensional yang digunakan Wihda di sini terkesan sekali filosofinya, yang seolah menggiring pembaca untuk manjabarkannya lebih leluasa.
Aku ingin saat kau ada
akupun ada
menemani jejak langkah yang tiada
hingga menjadikannya ada
Sedangkan dua puisi lainnya Bencana, karya Nurnaeni dan Dirimu karya Haryati, adalah dua puisi dengan tema, persoalan dan kegelisahan yang berbdeda. Kegelisahan di luar diri Nuraeni disitu amat terasa ketika dia mengimpresikan bencana alam yang ditandai dengan gunung-gunung serasa runtuh, samudera serasa di tumpah dan tanah bagai terbelah.
Sementara Haryati lebih dengan kegelisahan dirinya terhadap orang lain, yang dalam hal ini adalah pacar atau kekasih yang selama ini pernah singgah di hatinya, yang kemudian semua itu dia kembalikan kepada Sang Khaliq.
SINAR PAGI, Tahun 40 Edisi 9 - 16 Februari 2011 GalauPuisi: Lisa Santika Onggrid
Ceritakan padaku
gerimis hari itu
sudah berapa lama berlalu?
mengapa jejak jejak darah
masih menapak di jalan berlumpur?
teriakan mereka masih menggema
seolah menunggu
meratap
hei, berapa lama lagi
hujan ini baru berhenti?
X6 (Cosinusix)
SMAN 8 Pekanbaru
Basah Puisi: Dyah Meri Agustin
Angin berputar
ombak menggulung seraya sayap dikepakkan sedikit senyum menari
kesan teramat sangat perih
Ku kira kau akan pasrah teringat sayapmu telah basah bertahanlah...
Tak selamanya basah itu berat dan pasrah kelak.. Tuhan membalikan telapaknya
sayap kan mudah diubah menjadi Sirip yang indah disana.... kau kan dapatkan
sejatinya hidup dengan tanpa rasa terpaksa.
Dyah Meri Agustin (SMAN 1 SLIYEG_XI IPA 2)
Tinjauan Puisi:
Impresionis dan Metaforisme
Yang Dihidupkan
oleh: Acep Syahril
Kemudian saya katakan pada mereka (siswa) bahwa hari ini saya telah melakukan kesalahan. Kesalahan yang oleh kebanyakan orang dianggap sebagai hal sepele, yakni nyerobot trafiq light saat lampu masih merah. Sementara untuk jarak dua kilo meter perasaan saya masih dihantui seolah-olah di belakang ada Pak Polisi lalu lintas yang ngebuntuti (mengejar) karena telah melakukan pelanggaran. Tapi dengan tetap melakukan pembelaan terhadap diri dengan menggunakan logika, kalau tadi saya sedang buru-buru dan tidak masalah walau pun harus melakukan pelanggaran. Namun pembelaan itu malah menimbulkan persoalan baru, hati saya menentang dan akhirnya saling mempertahankan.
Di satu sisi logika saya mengatakan kalau apa yang saya lakukan tadi benar, sementara hati saya tidak mau kompromi kalau saya telah melakukan pelanggaran, dan apa pun alasannya saya dikatakannya salah.
Sore harinya ketika saya pulang kerja kembali perasaan dihantui rasa bersalah, takut kalau saat nyerobot lampu merah tadi pagi ada polisi yang menandai kendaraan atau warna jaket yang saya kenakan. Karena saya tidak mau berurusan dengan Pak Polisi, malu.
Keesokan harinya saya tidak lagi mau melakukan kesalahan yang sama, sebab dengan begitu hati saya agak tenang dan tidak ada persoalan yang mengganjal di dalam. Selain itu saya juga bisa bekerja dengan tenang.
Memang hal ini oleh sebagian orang akan dianggap berlebihan, hanya karena nyerobot trafiq light saat lampu masih merah saja dijadikan persoalan. Lebay. Tapi menurut saya tidak apa-apa, soalnya baik buruknya pengalaman tadi, toh yang paling tau diri saya sendiri. Demikian juga kalau sampai kemudian berurusan dengan Pak Polisi.
Begitulah cara saya belajar, belajar dari kesalahan serta mengamati kebertolak belakangan logika dan hati. Dua dunia yang saling berseberangan yang tak selesai-selesai untuk difahami, tapi lebih untuk dimengerti dan dilakoni. Demikian juga halnya dengan aktifitas menulis saya, yang lebih dominan berangkat dari ketidak mengertian pada suatu persoalan, lalu terjadi peperangan antara logika dan hati untuk saling mempertahankan kebenarannya. Dengan mencari jawabannya lewat membaca.
Dan pada kedua puisi di atas, yang ditulis Lisa Santika Ongrid (puisi Galau) dan Dyah Meri Agustin (puisi: Basah), saya seolah membaca diri saya sendiri ketika sedang mengalami persoalan. //ceritakan padaku/gerimis hari itu/sudah berapa lama berlalu?/.......tanya Lisa, sementara dia masih melihat jejak darah yang masih menapak di jalan berlumpur.
Lirik monolog yang juga dirasakan oleh semua orang, sebagai suatu pertanyaan yang berangkat dari kenyataan. Yang baginya bukan sekedar persoalan biasa sehingga terjadi pengendapan begitu mengesankan baginya.
Hal ini diperkuat oleh kepekaannya bahwa teriakan mereka masih menggema, seolah menunggu dan meratap kehadiran orang lain untuk mengerti atau menolong, atau memperhatikannya. Sungguh Impresionism yang mengesankan, meski dia ungkapkan dalam bahasa konvensional yang tentunya mudah dipahami. Namun kenyataannya tidak. Lisa seolah menjadi saksi dalam bencana merapi itu, dimana debu dan batu-batu berterbangan, lalu disusul hujan yang tak henti-hentinya mengguyur kali, desa dan kota. Sampai kemudian aliran lahar dingin yang didesak hujan untuk merembesi seluruh pelataran. .../hei, berapa lama lagi/hujan ini baru berhenti?//, tanya Lisa. Atau Dyah Meri Agustin yang secara metaforis mengangkat persoalan seseorang yang tengah menghadapi masalah, dan membandingkannya dengan seekor burung terbang dalam keadaan basah sayap. Suatu perbandingan yang menarik untuk kemudian bisa jadi renungan bagi bagi kita. //Angin berputar/ombak menggulung/seraya sayap dikepakkan/sedikit senyum menari/kesan teramat sangat perih// //Ku kira/kau akan pasrah/teringat/sayapmu telah basah/bertahanlah...//.
Karena tak selamanya basah itu berat, dan pasrahlah.... kelak Tuhan membalikan telapaknya. sayap kan mudah diubah menjadi sirip yang indah, disana....kau kan dapatkan sejatinya hidup dengan tanpa rasa terpaksa.
Ow..ow manis sekali ungkapan sederhana Agustin ini, dia tak hanya sekedar menuliskan bait-bait puisi, tapi juga mampu memberikan keyakinan serta pencerahan kepada seseorang yang dimaksudkannya tadi.
Tobroni, S.Pd, Msi (Kepala SMK NU Kaplongan - Indramayu)
Tobroni: Study Banding Bukan Jalan-Jalan
Indramayu, SINAR PAGI
Kepala SMK NU Kaplongan, Indramayu Jawa barat, Tobroni, S.Pd.,M.Si dan Kepala SMK Al-Hikmah 2 Brebes, Jawa Tengah Drs. Suwito, M.Si mendapat kesempatan dari Dirjen SMK untuk melakukan study banding ke tiga negara, Brunei, Singapura dan Malaysia. Sebelum pelaksanaan Ujian Nasional (UN), tepatnya pertengahan Februari 2011 ini mereka akan bertolak.
Menurut Tobroni kunjungannya ke tiga negara tersebut untuk menambah ilmu pengetahuan demi kemajuan pendidikan di SMK mereka masing-masing. Sebab sebagai sekolah berbasis Pondok Pesantren dengan pengembangan pengetahuan teknologi modern ini dibutuhkan banyak informasi serta pengalaman, baik pada sistem pembelajaran mau pun manajemen pengelolaan organisasi guna meningkatkan mutu serta kualitas pendidikan di sekolah mereka. Dan mereka juga membantah keras kalau study banding ke luar negeri ini, oleh sekelompok orang dikatakan sebagai study jalan-jalan menghabiskan uang sertifikasi.
“Saat ini lembaga-lembaga pendidikan SMK berbasis pondok pesantren dan teknologi dengan manajemen pemasaran yang siap mencetak anak didik menjadi manusia berkualitas, beriman dan siap bekerja keras, telah menjadi komitmen SMK tersebut untuk mewujudkannya. Yang berupaya merealisasikan dua tuntutan Keilmuan Duniawi (Technoligi dan Sains) dan Keilmuan Ukhrowi (Agama/Religius). Jadi maaf ini bukan program jalan-jalan,” ujar Tobroni.
Karena menurutnya dengan mengandalkan kemampuan dan pengalaman serta manajemen yang pas-pasan, kecil kemungkinan untuk dapat mewujudkan apa yang menjadi harapan SMK yang selama ini mereka kelola dengan berbasis pondok pesantren dan teknologi tadi. Soalnya SMK berbasis pondok pesantren di sini sudah jelas dituntut banyak pengetahuan, pengalaman serta informasi ganda yang mampu mendongkrak kemampuan intelektual 2 kajian keilmuan (Duniawi dan Ukhrowi) para pendidiknya. Selain memiliki kajian keilmuan tersebut, juga dibarengi dengan Moralitas, Mentalitas dan Akuntabilitas demi menelurkan anak didik (santri) yang madani, demikian ditegaskan Tobroni.
Dan dia juga memaparkan kalau sampai saat ini SMK NU Kaplongan telah memiliki 7 orang guru didik dengan status kesarjanaan S2, yang masing-masing mengabdi di tiga jurusan, Otomotif (MO), Otomasi Motor (OM) serta Teknik Komputer & Jaringan(TKJ). (Acep)*
Untukku dan Untukmu Puisi: Dhikaraei
ku tau dunia ini tak abadi,
ku tau hidup ini akan mati,
ku tau waktu kan berhenti,
dan ku tau cinta itu akan hina,
ku tau sayang itu akan hilang,
ku tau semua keindahan adalah
jurang yang mencekam,
ku tau kau tak bisa lupakan,
ku tau kau akan menjerit kesakitan,
ku tau kau akan sadar, ku tau walau kau tak tau,
bahwa ku tak bisa lupakan dan
kau tak bisa menghindar, bagaimana
masa lalu dan masa depan, kau akan
selalu bersamaku, abadi dihtiku,
dengan kenangan, kesedihan dan ketulusan
Kelas XI IPA 4, SMAN 1 Majalengka
Pagi Hari Puisi:Deden Nurhadiana
Ku buka mata ini dari tidurku
kulihat embun pagi di dedaunan hijau
angin pagi berhembus lewat jendela
udara segar terasa begitu dalamnya
Burung-burung bernyanyi
mentari mulai menghangatkan bumi
rerumputan pepohonan alang-alang
menari-nari mengikuti irama angin pagi
Gemerisik angin terdengar ceria
menyambut pagi yang cerah
oh Tuhan betapa besar kekuasaan Mu
yang telah menciptakan pagi ini untuk ku
Kelas X 4, SMAN 1 Majalengka
Tinjauan Puisi:
Puisi dan Eskul di Dunia Maya
Oleh: Acep Syahril
Siapa pun dan dari kalangan mana pun mereka berasal, kecuali mereka yang masih hidup dalam peradaban lama jelas jauh dari yang namanya teknologi, apalagi dunia maya semacam internet. Sebaliknya bagi para siswa dari mulai anak TK, SD, SMP dan sampai ke siswa SMA, dunia maya sudah bukan lagi hal yang asing. Kalau pun tidak bisa mengaksesnya, paling tidak mereka sudah mengenal manfaat serta kegunaan internet.
Bahkan di sekolah-sekolah setingkat SMP dan SMA sederajat saat ini sudah terbiasa memanfaatkan internet, selain sebagai salah satu kegiatan belajar, pencarian data untuk tugas sekolah juga sebagai kegiatan ekstrakurikuler, seperti dilakukan SMAN 1 Majalengka. Yang belum lama memanfaatkan teknologi canggih ini sebagai salah satu media unjuk kebolehan para siswa dalam mengakses internet, dari kegiatan ekstrakurikuler dengan materi lomba Blog Sastra antar kelas dalam memeriahkan bulan bahasa tahun 2010 lalu.
Dari materi lomba yang mereka sajikan, Dua dari beberapa kelompok peserta lainnya, yakni Kelas X-4 (http://husni13.blogspot.com) dan Kelas XI IPA 4 (http://dhikaraei07.blogspot.com) menampilkan materi puisi, mereka adalah Dhikaraei dan Deden Nurhadiana.
Keduanya menampilkan puisi dengan tema berbeda, Dhikaraei bercerita tentang hidup dan cinta serta suasana hati yang akan dan pernah dilalui semua orang, dengan ungkapan yang ekspresip “untukku dan untukmu”. Sedangkan Deden Nurhadiana lewat puisinya “Pagi Hari” lebih pada pujiannya atas ke Maha Besaran Sang Khaliq melalui kekagumannya pada suasana alam dan waktu yang bisa dia nikmati setiap pagi.
Burung-burung bernyanyi
mentari mulai menghangatkan bumi
rerumputan pepohonan alang-alang
menari-nari mengikuti irama angin pagi Impresionisme pagi yang secara umum bisa dirasakan semua orang, namun oleh Deden
Nurhadiana kembali ditegaskan sebagai bentuk kekagumannya pada Sang Khaliq yang telah kembali memberinya kesempatan untuk mnyongsong pagi sebagaimana dia gambarkan.
Ku buka mata ini dari tidurku
kulihat embun pagi di dedaunan hijau
angin pagi berhembus lewat jendela
udara segar terasa begitu dalamnya
Sementara Dhikaraei atas kegelisahan individunya mengingatkan serta menyadarkan dirinya dan orang yang pernah dekat di hatinya tentang hidup dan cinta, dengan ungkapan yang cukup ekspresip. //ku tau dunia ini tak abadi,/ku tau hidup ini akan mati,/ku tau waktu kan berhenti,/dan ku tau cinta itu akan hina,/ku tau sayang itu akan hilang,/ku tau semua keindahan adalah/jurang yang mencekam,/ku tau kau tak bisa lupakan,/ku tau kau akan menjerit kesakitan,/ku tau kau akan sadar, ku tau walau kau tak tau,/.........
Kesadaran individual yang belum tentu sama dengan pandangan atau pendapat orang lain, seperti pada baris dan kutau cinta itu akan hina, namun sebagai ungkapan ekspresip yang bersifat emosional hal ini wajar-wajar saja.
bahwa ku tak bisa lupakan dan
kau tak bisa menghindar, bagaimana
masa lalu dan masa depan, kau akan
selalu bersamaku, abadi dihtiku,
dengan kenangan, kesedihan dan ketulusan
Suatu penegasan ekspresip dengan keyakinan yang merujuk pada filosofi cinta, bahwa “sepasrah-pasrahnya perspisahan pasti tetap akan luka” (kata-kata penyair, Iif Ranupane). Yang tak akan lepas dari diri siapa pun yang tengah mengarungi hidup ini.
Bicara soal hati di dunia remaja memang bukan perkara mudah untuk mencari penyelesaiannya, selain karena tingkat berfikirnya masih labil, kesadaran terhadap dirinya juga masih belum jelas dan mudah berubah-ubah. Untuk itu disarankan agar memilih cara yang lebih bijak serta mampu meningkatkan kekokohan mental dan pola fikirnya, sehingga apa yang menjadi persoalan dalam dirinya saat itu bisa diatasi tanpa melibatkan banyak orang.
Cara bijak dimaksud salah satunya menumbuhkan kebiasaan membaca sejak dini dan atau membiasakan menuliskan setiap persoalan lahir mau pun persoalan batin yang seringkali mendominasi aktifitas keseharian ke catatan harian sebagai media curhat yang bernilai dan bermanfaat.
Soalnya tidak sedikit di dunia ini orang-orang besar yang pemikiran-pemikirannya tersimpan di catatan harian (diary), seperti Madame Curie, fisikawan penemu zat radioaktif radium dan polonium asal Sklodowska itu, atau di Indonesia seperti Andera Hirata yang terangkat lewat buku Laskar Pelanginya.
Memang Diary identik dengan perempuan, sebagai teman bayangan dengan ceritanya yang selalu mengasyikkan. Sebagai sesuatu yang penting dalam menggiring perkembangan psikologis remaja, yang bisa membantu untuk berpikir dan berkembang.
Beberapa tahun selang catatan harian ini ketika dibaca lagi, disitu dia bisa menjadi guru yang mampu memberikan palajaran terbaiknya dengan cara introspeksi. Tapi kali ini kita diajak Pratiwi Diranti, siswa SMAN 8 Pekanbaru lewat puisinya Cerita Hampa.
Dalam puisinya Diranti memaparkan kegelisahan mengenai dirinya yang tidak tampak persoalan apa yang dia alami sebenarnya. Sampai-sampai dia mendekati putus asa, aku menangis meminta kepada Tuhan, haruskah kutinggalkan bumi ini.
Lalu aku pun bertanya pada langit
dimanakah suasana hatiku
yang kemarin menghilang
aku menangis meminta ke hadapan Tuhan
haruskah ku tinggalkan bumi ini
Meski secara teori penulisan puisi apa yang dituliskan Diranti belum sampai pada hasil yang memuaskan, tapi secara psikologis paling tidak Diranti telah mampu mengarahkan kegelisahan jiwanya dalam bentuk karya yang kemudian bermanfaat bagi orang lain.
Diranti kini telah punya teman baru tempat dia curhat, yakni diary: Aku termenung, di pinggiran ruang-ruang mimpi, ingin kusampaikan cerita ini padamu kawan, cerita hampa tentang kesedihan hatiku, Tatkala ku tanyakan pada bintang, bagaimana nasibku kala ini, bintang hanya terdiam membisu, dia tak mampu membebaskan kehampaanku, Ketika, kutanyakan pada mentari, ia hanya mengeluarkan sinarnya, dan seolah menunjukkan, dialah sang penguasa jagat raya.
Ratusan Penyair dari berbagai kota Indonesia, Jum’at (7/1) memadati halaman depan Gedung Agung Yogyakarta, kehadiran mereka atas undangan Paguyuban Sastrawan Mataram. Sebagai dukungan moril terhadap ketetapan ke Istimewaan Yogyakarta, dan pemerintah tidak lagi mempertanyakan ke istimewaannya dalam konteks politik yang hanya akan melahirkan keresahan di masyarakat Yogya.
Sigit Sugito koordinator kegiatan Seratus Penyair Membaca Jogja ini menuturkan, kalau acara tersebut sengaja dikemas sebagai upaya perenungan membaca Jogja masa lalu, masa kini dan masa yang akan datang.
Sementara pada siang harinya bertempat di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), berlangsung Diskusi dan Pemaparan Akademik tentang Keistimewaan Yogyakarta bertema “Mendengar Suara Yogya”. Dengan pembicara GBPH Prabukusumo, KPH Tjondrokusumo (Puro Pakualaman), Wakil Ketua Komisi II DPR RI, Ganjar Pranowo serta tim peneliti Fisipol UMY seperti Ahmad Nurmandi (Dekan Fisipol UMY), Tunjung Sulaksono dan Priyo Purnomo, yang keduanya pengajar Ilmu Pemerintahan di UMY.
Pada kesempatan itu Ganjar Pranowo mengtakan agar sebaiknya pemerintah berfikir lagi dalam menyikapi keistimewaan Yogyakarta, mengenai mekanisme pengisian jabatan gubernur. “Sebab selama ini saya selalu menyarankan supaya pemerintah tidak mengambil resiko politik yang lebih besar lagi. Istilahnya kalau gak gatel jangan digaruk, sebab kalau sampe lecet akan lebih berbahaya,” ujarnya. (*)
Baca Puisi Semalam Suntuk
Panggung terbuka sederhana yang digawe tim Paguyuban Sastrawan Mataram di halaman Gedung Agung di jalan Malioboro, sejak sore sudah dipadati pengunjung baik masyarakat Yogya maupun wisatawan domestik dan mancanegara yang berlibur di kota itu.
Para penyair seperti, Adri Darmaji Woko (Jakarta), Aant S Kawisar , Asdar Muis RMS (Makasar), Arieyoko (Bojonegoro), Acep Syahril (Indramayu), Heru Emka (Semarang), Haryono Soekiran (Purbalingga), Ismet MN Haries, Teguh Ranu Sastra Asmara, Sri Harjanto Sahid, Suminta A Sayuti, Agnes Yani Sardjono (Yogyakarta), Boedi Ismanto (Tegal) serta sejumlah penyair Indonesia lainnya. Yang pernah belajar dan lebur di kancah kepenyairan Jogjakarta ini, memanfaatkan event tersebut sebagai ajang kangen-kangenan mereka. Dan tidak hanya di lesehan pelataran panggung tapi juga di mimbar pembacaan puisi, dengan meneriakkan karya-karya mereka tentang Jogja yang pernah membesarkan mereka, seperti Asdar Muis misalnya.
“Kehadiran saya pada kegiatan ini lebih pada kedekatan emosional terhadap Jogja, sebab kota ini dengan keberadaannya yang dulu dan sekarang memiliki arti penting bagi masyarakatnya,” ujar pekerja buku sastra dan seni pertunjukan Makasar itu.
Dan penampilan Asdar Muis RM dengan puisinya bertajuk Tangis Jogja Di Makasar, ditingkahi musik khas Pui-pui dan lagu Cincim Bancak yang diiringi beberapa seniman Makasar lainnya sempat menghentikan para pejalan kaki yang hendak menuju kekeramaian Malioboro. Sebab yang menarik di sini bukan hanya isi puisinya yang syarat sindiran serta hentakan-hentakan tajam terhadap pemerintah pusat, tapi juga musiknya yang khas dan menarik itu.
Seperti Asdar, penyair Jepara Asyari Mohammad itu juga mengkolaborasikan permainan biolanya dengan puisi. Disusul eksplorasi spontan Udik Supriyanta yang mengusung puisi bersama racikan musik dangdut dari kelompok pengungsi Merapi. Dan tak ketinggalan Mustofa W Hasyim yang menambah segar suasana melalui puisi Pesan Si Kodok Sakti dari Merapi - nya. (*)
Pendidikan Sastra & Budaya
Aku Yang HilangPuisi:Khusnul Khotimah
Siapakah yang sekarang ada di sana
merenung di bawah bulan merindu
sementara aku tak dapat
melihat cahaya di lorong-lorong sunyi
gelap ini
Mataku bisa melihat
tapi bibirku tak dapat berkata-kata
sungguh aku tak tahu
apa yang telah hilang dari diriku
Klas: XI IPA SMAN 1 Sukagumiwang – Indramayu
Hidup Puisi: Taskinih
Perjalanan ini bagai angin
yang menerpa dedaunan
kadang mengejutkan dan
kadang menyejukkan
Seperti kita yang kerap lalai
dan menusukkan pedang
ke tubuh sendiri
lalu tersenyum kecut
Perasaan hati yang tak tenang
bagai ombak bergulung-gulung
riuh menerjang pantai
lalu kembali menyurut ke tengah
bingung
Seperti itukah hidup
Klas: XI. A. 1 SMAN 1 Tukdana – Indramayu
Tinjauan Puisi:
Hidup dan Aku Yang Hilang
oleh: Acep Syahril
Sampai hari ini keberadaan sastra masih dianggap hal yang tidak penting, ketika sastra oleh para pendidik diidentikkan dengan puisi. Sementara puisi mereka klaim sebagai dunia permenungan yang lebih mentelantarkan waktu, tidak menghasilkan apa-apa selain kata-kata dan sia-sia. Apalagi ketika sastra disandingkan dengan pendidikkan yang berupaya membangun manusia trampil yang cepat dapat kerja. Maka keberadaan sastra semakin dianggap sebagai penghambat pemikiran seseorang untuk berfikir maju dan berkembang demi mendapatkan pekerjaan. Pekerjaan yang lebih mengandalkan keterampilan serta fisik yang digerakkan oleh pengalaman dan pengetahuan tekhnik baku yang kaku.
Keringnya pengetahuan, pengalaman dan perkembangan dunia di luar diri mereka membuat mereka tidak lebih dari robot-robot yang harus tunduk pada aturan kapitalis untuk menaikkan kuantitas produksi sebuah industri.
Sementara mereka lupa kalau sastra bukanlah alat yang akan menjerat pemikiran seseorang menjadi pelamun, sebagaimana “dikhawatirkan” para pendidik yang mengasumsikan sastra sebagai puisi. Dan pembuat puisi diidentikkan sebagai pelamun karena penulisannya dilakukan melalui dunia permenungan.
Padahal sudah jelas kalau karya-karya sastra adalah bentuk karya seni yang dilahirkan lewat pemakaian bahasa dan kata-kata dengan kandungan yang bersifat artistik dan bermakna tinggi. Dimana ketinggian nilai-nilai yang terkandung di dalamnya diperoleh dari bacaan berbagai sumber pengetahuan atau literature, selain pengalaman empirik serta peran imajinasi yang membuat karya sastra tersebut menjadi lebih hidup.
Jelasnya sastra atau kesusteraan adalah dunia membaca yang mampu memberi rangsangan fikir (intelektual) dan rasa seseorang untuk meningkatkan nilai-nilai, baik pada karya yang dia lahirkan mau pun nilai pada dirinya sebagai makhluk sosial. Karena melalui pengalaman membaca berbagai sumber pengetahuan tidak hanya kaya pengalaman tapi juga mampu meningkatkan kreatifitas dunia kerja seseorang.
Jadi melalui kegiatan apresiasi sastra yang membicarakan puisi, cerpen, novel atau karya-karya sastra sejenis, bukan berarti akan mencetak anak didik untuk menjadi penyair, novelis atau apapun. Tapi lebih pada menggiring mereka untuk tertarik pada dunia membaca, karena dengan membaca maka mereka akan lebih banyak tahu dunia.
Seperti Khusnul Khotimah dari SMAN 1 Sukagumiwang yang bertanya-tanya tentang dirinya yang hilang, kejujuran yang dia paparkan secara plastis melalui puisinya berjudul Aku Yang Hilang.
Mataku bisa melihat
tapi bibirku tak dapat berkata-kata
sungguh aku tak tahu
apa yang telah hilang dari diriku
Sebagai pertanyaan yang semestinya juga menjadi bahan renungan bersama, ketika kata aku disana menjadi aku lirik yang berarti aku kau, aku kamu dan aku kita. Atau apa yang telah hilang dari diriku, dirimu, diri kau dan diri kita? sementara aku tak dapat, melihat cahaya di lorong-lorong sunyi, gelap ini.
Sebuah pernyataan internal cukup dalam untuk memaparkan keberadaannya yang lemah, kurang dan alfa untuk mengenal lebih dekat dengan Sang Khaliq. Sehingga selain sulit meraba, merasakan atau melihat latifa-latifa (lorong-lorong hati) dalam dirinya, dia juga tak mampu mengungkapkan dengan kata-kata atas segala kebesaran yang telah didedahkan Sang Khaliq di sekitarnya.
Sementara Taskinih, dari SMAN 1 Tukdana baru mempertanyakan sebagian kecil dari siratan hidup, yang dalam hal ini lebih ditegaskan sebagai sampiran, dengan mengilustrasikan hidup sebagai perjalanan dan perjalanan ini bagai angin, yang menerpa dedaunan, kadang mengejutkan dan, kadang menyejukkan. Seperti halnya kita yang kerap lalai, dan menusukkan pedang, ke tubuh sendiri, lalu tersenyum kecut. Kadang perasaan hati yang tak tenang, bagai ombak bergulung-gulung, riuh menerjang pantai, lalu kembali menyurut ke tengah, bingung. Hal ini kemudian jadi pertanyaan Taskinih. Seperti itukah hidup?
Sebagaimana halnya para pemikir ahli agama, filsuf serta pemikir-pemikir sebelumnya, mereka masih saja belum menemukan jawaban yang pas untuk menjabarkan tentang hidup. Karena manusia adalah makhluk istimewa ciptaaan Allah yang bisa menjadi subjek sekaligus objek di dalamnya. Sehingga dari persoalan ini timbul pertanyaan abadi tentang manusia yang sampai sekarang tak terjawab tuntas, yakni: dari mana, mau kemana, dan untuk apa manusia hidup di muka bumi ini (Dr. Achmad Mubarok, M.A: Sunatullah Dalam Jiwa Manusia).