Rabu, 09 Februari 2011

Pendidikan Sastra dan Budaya

SINAR PAGI, Tahun 40 Edisi 9 - 16 Februari 2011
Galau                                    Puisi: Lisa Santika Onggrid

Ceritakan padaku
gerimis hari itu
sudah berapa lama berlalu?
mengapa jejak jejak darah
masih menapak di jalan berlumpur?
teriakan mereka masih menggema
seolah menunggu
meratap
hei, berapa lama lagi
hujan ini baru berhenti?

X6 (Cosinusix)
SMAN 8 Pekanbaru


Basah                                 Puisi: Dyah Meri Agustin

Angin berputar
ombak menggulung
seraya sayap dikepakkan
sedikit senyum menari
kesan teramat sangat perih

Ku kira
kau akan pasrah
teringat
sayapmu telah basah
bertahanlah...

Tak selamanya basah itu
berat dan pasrah
kelak.. Tuhan
membalikan telapaknya
sayap kan mudah diubah
menjadi Sirip yang indah
disana....
kau kan dapatkan
sejatinya hidup dengan tanpa
rasa terpaksa.

Dyah Meri Agustin (SMAN 1 SLIYEG_XI IPA 2)


Tinjauan Puisi:
Impresionis dan Metaforisme
Yang Dihidupkan   

oleh: Acep Syahril

Kemudian saya katakan pada mereka (siswa) bahwa hari ini saya telah melakukan kesalahan. Kesalahan yang oleh kebanyakan orang dianggap sebagai hal sepele, yakni nyerobot trafiq light saat lampu masih merah. Sementara untuk jarak dua kilo meter perasaan saya masih dihantui seolah-olah di belakang ada Pak Polisi lalu lintas yang ngebuntuti (mengejar) karena telah melakukan pelanggaran. Tapi dengan tetap melakukan pembelaan terhadap diri dengan menggunakan logika, kalau tadi saya sedang buru-buru dan tidak masalah walau pun harus melakukan pelanggaran. Namun pembelaan itu malah menimbulkan persoalan baru, hati saya menentang dan akhirnya saling mempertahankan.
Di satu sisi logika saya mengatakan kalau apa yang saya lakukan tadi benar, sementara hati saya tidak mau kompromi kalau saya telah melakukan pelanggaran, dan apa pun alasannya saya dikatakannya salah.
Sore harinya ketika saya pulang kerja kembali perasaan dihantui rasa bersalah, takut kalau saat nyerobot lampu merah tadi pagi ada polisi yang menandai kendaraan atau warna jaket yang saya kenakan. Karena saya tidak mau berurusan dengan Pak Polisi, malu.
Keesokan harinya saya tidak lagi mau melakukan kesalahan yang sama, sebab dengan begitu hati saya agak tenang dan tidak ada persoalan yang mengganjal di dalam. Selain itu saya juga bisa bekerja dengan tenang.
Memang hal ini oleh sebagian orang akan dianggap berlebihan, hanya karena nyerobot trafiq light saat lampu masih merah saja dijadikan persoalan. Lebay. Tapi menurut saya tidak apa-apa, soalnya baik buruknya pengalaman tadi, toh yang paling tau diri saya sendiri. Demikian juga kalau sampai kemudian berurusan dengan Pak Polisi.
Begitulah cara saya belajar, belajar dari kesalahan serta mengamati kebertolak belakangan logika dan hati. Dua dunia yang saling berseberangan yang tak selesai-selesai untuk difahami, tapi lebih untuk dimengerti dan dilakoni. Demikian juga halnya dengan aktifitas menulis saya, yang lebih dominan berangkat dari ketidak mengertian pada suatu persoalan, lalu terjadi peperangan antara logika dan hati untuk saling mempertahankan kebenarannya. Dengan mencari jawabannya lewat membaca.
Dan pada kedua puisi di atas, yang ditulis Lisa Santika Ongrid (puisi Galau) dan Dyah Meri Agustin (puisi: Basah), saya seolah membaca diri saya sendiri ketika sedang mengalami persoalan. //ceritakan padaku/gerimis hari itu/sudah berapa lama berlalu?/.......tanya Lisa, sementara dia masih melihat jejak darah yang masih menapak di jalan berlumpur.
Lirik monolog yang juga dirasakan oleh semua orang, sebagai suatu pertanyaan yang berangkat dari kenyataan. Yang baginya bukan sekedar persoalan biasa sehingga terjadi pengendapan begitu mengesankan baginya. 
  Hal ini diperkuat oleh kepekaannya bahwa teriakan mereka masih menggema, seolah menunggu dan meratap kehadiran orang lain untuk mengerti atau menolong, atau memperhatikannya. Sungguh Impresionism yang mengesankan, meski dia ungkapkan dalam bahasa konvensional yang tentunya mudah dipahami. Namun kenyataannya tidak.  Lisa seolah menjadi saksi dalam bencana merapi itu, dimana debu dan batu-batu berterbangan, lalu disusul hujan yang tak henti-hentinya mengguyur kali, desa dan kota. Sampai kemudian aliran lahar dingin yang didesak hujan untuk merembesi seluruh pelataran. .../hei, berapa lama lagi/hujan ini baru berhenti?//, tanya Lisa. Atau Dyah Meri Agustin yang secara metaforis mengangkat persoalan seseorang yang tengah menghadapi masalah, dan membandingkannya dengan seekor burung terbang dalam keadaan basah sayap. Suatu perbandingan yang menarik untuk kemudian bisa jadi renungan bagi bagi kita. //Angin berputar/ombak menggulung/seraya sayap dikepakkan/sedikit senyum menari/kesan teramat sangat perih//  //Ku kira/kau akan pasrah/teringat/sayapmu telah basah/bertahanlah...//.
Karena tak selamanya basah itu berat, dan pasrahlah.... kelak Tuhan membalikan telapaknya. sayap kan mudah diubah menjadi sirip yang indah, disana....kau kan dapatkan sejatinya hidup dengan tanpa rasa terpaksa. 
Ow..ow manis sekali ungkapan sederhana Agustin ini, dia tak hanya sekedar menuliskan bait-bait puisi, tapi juga mampu memberikan keyakinan serta pencerahan kepada seseorang yang dimaksudkannya tadi.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar