Kamis, 17 Maret 2011

Pendidikan Sastra dan Budaya

SINAR PAGI Tahun 40 Edisi 23 - 29 Februari 2011


Palsu               Puisi: Sandy Tyas


Aku kaget tak terkira
Saat semuanya terungkap
Saat semua terlihat
Oleh mataku yang telah sembuh
dari kebutaan cintamu

Sayangmu…
Cintamu…
Kasihmu…
Ternyata Palsu

Hatiku menangis
Hatiku terkikis
Tinggalkan luka yang terdalam
Dalam jiwa yang kini dilanda duka

SMK Negeri I Indramayu


 

Diaryku                                  Puisi: Wulandari


Kebimbangan dalam hatiku
Yang terbayang di memoriku
Yang kutumpahkan dalam diaryku
yang menjadi tempat curhatku

Temanku diaryku
Kenapa kau tak bosan?
Tuk dengarkan kesedihanku
Yang takkan habis dimakan waktu

SMP Negeri Unggulan Indramayu



Alasan Yang Mudah              Puisi: Rivan    

Menggelegak di dalam darah
Menghancurkan kepedihan
Kepedihan yang selalu menyalahkanku
Menikmati indahnya kegalauan

Busuknya kegalauan
Yang membuat insane jatuh terpuruk
Ratapi kesialan
Kesialan terkutuk

Alasanlah yang kutemukan
Tuk ganti segala kepedihan
Alasan yang ada di dekatku
Alasan mudah dan masuk akal

SMP Negeri Unggulan Indramayu




SMS                                 Puisi: Nursasih

malam dan ilusi senantiasa
menyapa lewat tut kata-kata
mengukir rasa direngkuh malam……

dapatkah kusua dia

kuncup hati memekar rasa
hangatkan harapan jiwa
roboh hampa rindu cahaya
dan hiduplah cinta tak nyata
maya

terima kasih waktu
telah kau rubah kuncup hati
dari kata-kata pujangga

SMA I Negeri Kuningan, 14 Juli 2004


Tinjauan Puisi:


Baru Puisi Cinta Belum Cinta Puisi

oleh: Acep Syahril

 

Sejak SMP saya punya hobby menulis surat, hampir dibeberapa kota pulau Jawa dan Sumatera saya punya teman korespondensi. Nama dan alamat mereka saya dapatkan dari berbagai majalah, seperti ‘Kuncung, Sahabat Pena, Koran Mingguan sampai ke majalah Teka-Teki Anak-Anak.

Saya punya kepuasan yang tak terkira ketika surat-surat saya mereka balas. Dari sekian banyak surat yang saya terima tidak jarang mereka menulis puisi sebagai hadiah perkenalanku.

Selain itu kami juga saling tukar informasi tentang banyak hal, seperti soal makanan khas daerah, jenis kesenian daerah, termasuk hasil pertaniannya.

Untuk bisa menulis dan menceritakan apa yang mereka inginkan saya terpaksa harus membaca dan banyak bertanya, sebagai referensinya. Karena kebiasaan berkoresponden seperti ini berlangsung lama, akhirnya niat mencari referensi tadi berubah jadi kebiasaan membaca. Maka dari buah membaca itulah saya baru merasakan berkembangnya wawasan berfikir.

Setelah itu seringkali muncul dorongan dari dalam untuk menulis sesuatu setiap kali menangkap objek yang terkesan unik atau sesuatu yang ditimbulkan dari lamunan. Atau bisa juga ketika terjadinya gesekan emosional dengan lawan jenis.

Pengalaman-pengalaman seperti ini tentulah memiliki nilai historis, seperti halnya Sandy Tyas pada puisisnya ‘Palsu’. Puisi ini bukan tidak mungkin berangkat dari pengalaman pribadi penyairnya. Apalagi saat menulisa puisi ini Sandy baru duduk di bangku kelas I SMK (Sekolah Menengah Kejuruan), dimana masa-masa pubertasnya baru berjalan beberapa tahun ketika dia memasuki zona cinta. //sayangmu…/cintamu/kasihmu/ternyata palsu// //hatiku menangis/hatiku terkikis/tinggalkan luka yang terdalam/….

Sungguh, inilah ungkapan jujur yang datang dari wilayah paling dalam diri Sandy, ketika pada kenyataannya dia merasa dikecewakan oleh seseorang yang telah memberinya kepalsuan cinta.

Kalau saja Sandy saat ini punya kebiasaan membaca, mungkin bahasa ungkap yang digunakannya tidaklah secengeng ini. sebaliknya dia pasti bisa mengungkapkan dengan gaya yang lebih menarik dan kuat, seperti pengalamannya yang begitu dahsyat dan hebat menghantam ketulusan hatinya.

Sebab dalam puisi ini Sandy terlalu menunjukkan kepolosan untuk menjelaskan rasa sakit hati yang dirasa. Seperti  Hatiku menangis, Hatiku terkikis, Tinggalkan luka yang terdalam, Dalam jiwa yang kini dilanda duka.

Padahal bahasa kekecewaan Sandy di sini akan terasa lebih puitik kalau saja dia punya referensi bacaan yang baik. Karena dari kebiasaan membaca tadi dia akan mampu memilih diksi yang lebih menarik untuk dijadikan puisi. Jadi dalam hal ini Sandy baru mampu menulis puisi cinta dan belum jatuh cinta pada puisi.

Jauh berbeda dengan Nursasih, dari SMA Negeri 1 Kuningan dalam puisinya ‘SMS’, yang pertemuan dengan lawan jenisnya cuma melalui kontak celuler, itu pun hanya dengan cara SMS.

Namun karena getaran kawat angin yang dia terima langsung menembus pojok hatinya. Secara spontanitas kepekaannya terusik yang kemudian dia paparkan dalam bahasa yang irit dan menggigit.

kuncup hati memekar rasa
hangatkan harapan jiwa
hampa
hiduplah cinta tak nyata
maya
Hatinya kuncup mekar berbunga, ada setitik harapan di jiwa, tapi hampa karena dia tak mengerti siapa lawan jenis yang ingin dia cintai. Sementara yang selalu terkirim hanya kata-kata, yang menghidupkan rasa cinta dalam dirinya, tapi cinta itu tak nyata, maya.
Meski ada kesan kekecewaan dari hubungan mereka, namun kekecewaan tersebut tidak dia ungkap dalam bahasa yang cengeng. Karena memang begitulah kenyataannya, Nursasih hanya bercinta lewat kawat angin yang setia jadi pengantar kata-kata antar keduanya. Hampa rindu hiduplah cinta tak nyata/maya.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar